Seringkali, saat semuanya terasa terlalu ramai, aku justru butuh diam.
Bukan hanya sekadar duduk, tiduran atau rebahan lama-lama, tapi untuk ngobrol.
Ngobrol sama siapa? Sama diri sendiri.
Ngobrol sama diri sendiri? Iya, kamu nggak salah baca. Mungkin terdengar aneh untuk sebagian besar orang, tapi ini bukan tentang berbicara keras-keras seperti di film-film, tapi diam-diam di dalam kepala. Ini tentang berdialog secara jujur dan reflektif dengan diriku sendiri, baik di dalam hati, lewat tulisan, atau benar-benar ngomong sendiri aja kalau di tempat sepi. Aktivitas ini bisa jadi cara yang efektif untuk aku lebih mengenal diri.
Ngobrol sama diri sendiri itu bukan cuma mikir atau overthinking, lebih dalam dari itu.
Rasanya seperti duduk bareng sekelompok orang yang semuanya adalah Aku. Aku seperti punya ruang di kepala tempat aku bisa ngobrol dengan banyak versi diriku sekaligus. Kadang aku merasa seperti sedang mengadakan rapat internal, di sana ada aku yang lemah, aku yang kuat, aku yang gampang menyerah, juga aku yang pantang menyerah. Semua versiku ada di sana.
Ada satu sisi yang bilang, “Ayo semangat, kamu udah sejauh ini.”
Tapi ada juga yang berbisik, “Udahlah, kayanya susah kalau itu”
Kadang muncul suara yang bijak, sabar, bisa menenangkan.
Tapi di waktu lain, suara panik dan khawatir yang lebih keras.
Terkadang yang lemah mendominasi, bikin hari jadi berat. Tapi di lain waktu, versi yang optimis bisa menguatkan dan bikin aku bangkit lagi.
Saat aku duduk sendiri dan mulai ‘ngobrol’, aku nggak cuma sekadar bertanya apa yang terjadi hari ini atau apa yang lagi aku pikirkan. Lebih dari itu, aku merasa seperti menyimak percakapan antara bagian-bagian diriku yang berbeda. Ada suara yang penuh keraguan dan takut, tapi ada juga suara yang optimis dan penuh harapan. Kadang aku dibuat bingung karena suara-suara itu saling bertolak belakang, tapi aku juga belajar menerima kalau aku itu memang kompleks.
Aku pernah merasa sangat lelah, dan saat itulah bagian ‘lemah’ di dalam diriku berbicara paling nyaring. Dia bilang, “Aku nggak kuat lagi, mau berhenti aja.” Tapi, di saat yang sama, bagian ‘kuat’ malah ngasih semangat, mengingatkan aku tentang semua hal yang sudah aku lewati. Kadang mereka berdebat sengit, bikin hatiku campur aduk, tapi aku tahu itu penting karena aku jadi bisa lebih jujur dengan perasaan sendiri.
Yang menarik, aku nggak selalu harus jadi pemenang dalam rapat internal itu. Kadang aku membiarkan bagian yang mudah menyerah untuk berbicara, karena aku tahu itu bagian dari diriku juga yang perlu didengar, bukan diabaikan. Mengakui kelemahan sendiri justru membuat aku lebih manusiawi dan nggak terlalu keras pada diri sendiri.
Ngobrol sama diri sendiri juga jadi semacam refleksi tanpa filter. Aku bisa menyalahkan diri sendiri, memuji diri sendiri, menangis, atau tertawa dalam diam. Aku nggak perlu takut dihakimi, karena aku tahu aku adalah satu-satunya yang benar-benar mengerti drama batin yang aku jalani. Dari percakapan ini, aku sering menemukan energi baru untuk bangkit lagi, meski mungkin besok suara ‘lemah’ itu akan kembali berbicara.
Aku juga sadar kalau ngobrol sama diri sendiri itu bukan soal mencari jawaban pasti. Kadang aku cuma ingin mengeluarkan isi kepala, melepaskan beban, dan memberi ruang bagi diri untuk bernafas lega. Aku nggak perlu sempurna, aku cuma perlu jujur.
Kalau dipikir-pikir, ngobrol sama diri sendiri itu seperti punya sahabat sejati yang selalu ada, meski tak terlihat. Dia yang mengenal segala kekurangan dan kelebihan, yang mau mendengarkan tanpa lelah. Di saat dunia luar terasa ramai dan melelahkan, ngobrol sama diri sendiri jadi momen tenang yang aku tunggu-tunggu.
Jadi, aku nggak melihat ngobrol sama diri sendiri sebagai sesuatu yang aneh. Justru ini cara aku menjaga hubungan dengan diriku sendiri dan di sanalah aku merasa paling jujur, memastikan aku tetap terkoneksi dengan apa yang sebenarnya aku rasakan dan inginkan. Di sana, aku belajar bahwa diri sendiri itu bukan satu sosok, tapi kumpulan versi yang saling melengkapi, berkonflik, dan terus berkembang.
Di saat dunia di luar terlalu ribut, saat target dan ekspektasi menekan dari segala arah, aku belajar duduk diam dan dengerin isi kepala sendiri. Aku tahu, ini bukan tentang jadi lemah atau kehilangan arah. Tapi justru, di tengah semua keraguan, aku masih bisa mengenali bahwa aku belum menyerah. Aku hanya butuh istirahat. Butuh dengar dulu apa yang sebenarnya sedang aku rasakan.
Aku pikir, selama ini yang aku cari adalah motivasi dari luar. Tapi ternyata, ngobrol sama diri sendiri justru sering jadi motivasi paling dalam.
Dan di titik itu aku merasa, me time yang paling menyembuhkan bukan selalu tentang liburan atau hangout di luar. Tapi saat aku benar-benar hadir untuk diriku sendiri. Mendengarkan, menerima, dan menghargai semua versi aku, bahkan yang paling rapuh sekalipun. Karena dari semua obrolan yang ada di dunia ini, mungkin obrolan sama diri sendiri adalah yang paling jarang kita beri waktu padahal bisa jadi itulah yang paling kita butuhkan.
Kalau kamu ? Pernah ngga ngobrol sama diri sendiri ?



