Miskomunikasi: Ketika Encoding dan Decoding Tidak Sinkron

Miskomunikasi: Ketika Encoding dan Decoding Tidak Sinkron

Dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas kita. Baik secara lisan, tulisan, maupun nonverbal, manusia terus-menerus menyampaikan dan menerima pesan. Namun, tidak semua komunikasi berjalan dengan baik. Ada kalanya pesan tidak dipahami sebagaimana mestinya oleh penerima. Hal ini dapat tetapi karena proses penyampaian dan penerimaan pesan, yang dikenal sebagai encoding dan decoding tidak berjalan selaras. Fenomena ini dikenal dengan istilah miskomunikasi, dan sering kali menjadi penyebab utama salah paham, konflik, bahkan retaknya hubungan antarindividu.

Untuk memahami bagaimana miskomunikasi terjadi, kita perlu mengenal dua proses penting dalam komunikasi: encoding dan decoding. Encoding adalah proses saat pengirim pesan (komunikator) mengubah ide, pikiran, atau emosi menjadi bentuk yang dapat dikomunikasikan, seperti kata-kata, ekspresi, tulisan, atau simbol. Sedangkan decoding adalah proses saat penerima pesan (komunikan) menafsirkan atau memahami pesan tersebut berdasarkan sudut pandang, pengalaman, dan konteks yang ia miliki.

Idealnya, encoding dan decoding ini saling terhubung secara akurat. Namun, dalam praktiknya, perbedaan latar belakang, emosi, bahkan asumsi pribadi dapat mengganggu proses ini. Seorang komunikator mungkin merasa sudah menyampaikan pesan dengan jelas, tetapi komunikan bisa saja menangkap pesan yang sama dengan makna berbeda. Di sinilah letak celah terjadinya miskomunikasi.

Menurut David K. Berlo dalam bukunya The Process of Communication (1960), komunikasi adalah rangkaian dari empat komponen utama: sumber (source), pesan (message), saluran (channel), dan penerima (receiver) yang disebut sebagai model komunikasi SMCR. Dalam model ini, Berlo menekankan bahwa keberhasilan komunikasi dipengaruhi oleh kesamaan latar belakang antara pengirim dan penerima, terutama dalam hal keterampilan berkomunikasi, sikap, pengetahuan, sistem sosial, dan budaya. Jika tidak ada keselarasan, maka encoding dan decoding bisa tidak sinkron, yang memicu miskomunikasi.

Contohnya, ketika seseorang berbicara dengan bahasa atau istilah teknis yang tidak dimengerti oleh lawan bicara, meskipun isi pesannya benar dan niatnya baik, tetap saja komunikasi akan gagal karena decoding tidak berhasil dilakukan dengan tepat.

Hal yang lebih rumit seringkali terjadi saat seseorang menggunakan pendekatan tidak langsung dalam menyampaikan pesan, atau dalam bahasa sehari-hari disebut “kode-kodean.” Misalnya, seseorang berkata, “Yaudah deh, kamu sibuk kan? Gak apa-apa kok,” padahal sebenarnya ia ingin diperhatikan. Encoding-nya disengaja samar, sementara decoding-nya sangat bergantung pada kepekaan si penerima. Dalam banyak kasus, kode semacam ini justru memperbesar kemungkinan miskomunikasi, karena masing-masing pihak merasa sudah melakukan bagiannya, padahal tidak ada pemahaman yang benar-benar tersampaikan atau diterima.

Contoh lain ketika kamu ingin menyampaikan rasa kecewa pada teman, tapi kamu malah berkata, “Nggak apa-apa, kok,” sambil tersenyum. Ini adalah encoding yang tidak langsung atau tersamar. Kalau temanmu tidak cukup peka, ia akan melakukan decoding secara literal dan mengira semuanya baik-baik saja. Padahal tidak. Situasi seperti ini sangat umum terjadi, apalagi dalam budaya yang cenderung menghindari konfrontasi langsung.

Selain itu, tantangan komunikasi di era digital juga semakin kompleks. Pesan lewat teks atau media sosial sangat mudah disalahartikan karena kehilangan konteks nonverbal seperti intonasi dan ekspresi wajah. Emoji bisa membantu, tapi tidak selalu cukup. Di sinilah pentingnya kesadaran akan bagaimana kita meng-encode pesan dan bagaimana pesan itu bisa dipahami orang lain secara berbeda tergantung pada latar belakang, pengalaman, atau bahkan mood saat itu.

Miskomunikasi merupakan fenomena yang wajar, namun bukan berarti harus terus dibiarkan. Penyebab utamanya sering kali bukan pada isi pesan, melainkan pada proses encoding dan decoding yang tidak sinkron. Untuk meminimalkan hal ini, kita perlu belajar menyampaikan pesan dengan lebih jelas, langsung, dan terbuka. Di sisi lain, sebagai penerima pesan, kita juga perlu berusaha memahami konteks dan niat dari lawan bicara, serta tidak cepat mengambil kesimpulan hanya berdasarkan asumsi pribadi.

Komunikasi yang efektif bukan hanya soal berbicara, tetapi tentang memastikan bahwa apa yang kita maksud benar-benar sampai dan dimengerti dengan baik. Dengan kesadaran ini, kita bisa menciptakan hubungan yang lebih sehat, baik di lingkungan kerja, keluarga, maupun pertemanan. Karena pada akhirnya, komunikasi bukan sekadar bertukar kata, tapi membangun pemahaman. Dengan memahami konsep encoding dan decoding ini, kita bisa menjadi komunikator yang lebih baik—dan yang paling penting, menghindari miskomunikasi yang tak perlu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *