Jangan Tunggu Sempurna Untuk Memulai

Jangan Tunggu Sempurna untuk Memulai: Saat Terlalu Banyak Tahu Justru Bikin Kita Ragu

Kita sering mendengar kalimat seperti, “Mulai aja dulu.”  Namun, tidak sedikit orang yang terjebak dalam overthinking saat ingin memulai sesuatu—baik itu bisnis, karier, atau proyek pribadi. Mereka sering merasa belum cukup ilmu, belum cukup pengalaman, atau belum cukup percaya diri. Kita mungkin pernah berpikir, “Nanti aja deh, kalau aku udah paham semuanya.” Padahal justru di situlah jebakan penundaan terjadi. Banyak yang merasa harus menunggu semuanya sempurna dulu baru bisa mulai. Namun, apakah itu benar-benar perlu? Jawabannya: jangan tunggu sempurna! Karena menunggu kesempurnaan hanya akan menunda langkahmu lebih lama.

Jangan Tunggu Sempurna: Terlalu Banyak Tahu Justru Bisa Bikin Bingung

Semakin banyak kita belajar, kita makin sadar akan banyaknya pilihan dan kemungkinan. Dan alih-alih merasa lebih siap, kita malah bingung harus mulai dari mana. Rasanya kayak berdiri di tengah simpang jalan dengan terlalu banyak arah—dan akhirnya nggak melangkah sama sekali.

Ilmu itu penting, iya. Tapi kalau dijadikan alasan untuk menunda terus, bisa jadi justru menutup kesempatan buat bertumbuh.

Barry Schwartz dalam bukunya The Paradox of Choice (2004) menyebutkan bahwa semakin banyak pilihan, semakin sulit kita mengambil keputusan. Ini disebut decision paralysis. Ketika kita punya terlalu banyak informasi atau kemungkinan, bukannya membuat kita lebih siap, justru kita makin bingung mau mulai dari mana. Dan akhirnya, kita tidak mulai apa pun.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Steven Pressfield dalam The War of Art (2002), di mana ia menyebut ada kekuatan internal bernama Resistance—yaitu penundaan, ketakutan, keraguan, dan perfeksionisme—yang sering muncul saat kita hendak melakukan sesuatu yang penting. Resistance ini akan selalu datang, apalagi kalau hal yang ingin kita mulai punya dampak besar bagi hidup kita.

Tapi kalau kita paham bahwa Resistance itu wajar dan bagian dari proses, kita bisa lebih siap untuk tetap jalan meski pelan-pelan.

Aku pribadi pernah merasa seperti itu. Terlalu banyak riset, terlalu banyak belajar, dan malah semakin sulit menentukan langkah awal. Padahal, belum tentu semua pengetahuan itu benar-benar dibutuhkan untuk memulai.

Belajar Terbaik Itu dari Pengalaman

Penulis buku Mindset (2006), Carol S. Dweck, memperkenalkan konsep growth mindset dan menjelaskan bahwa individu dengan growth mindset percaya bahwa kemampuan bisa dikembangkan melalui proses dan pengalaman, bukan hanya dari bakat atau teori.

Artinya, kita tidak harus menjadi ahli dulu untuk bisa memulai. Justru lewat langkah kecil yang kita ambil, kita belajar dan berkembang.

Melalui pendekatan learning by doing, kita bisa belajar lebih cepat karena langsung berhadapan dengan masalah nyata.

Hal ini diperkuat oleh teori pembelajaran experiential learning dari David Kolb (1984) yang menekankan bahwa pembelajaran paling efektif terjadi melalui pengalaman langsung—melakukan sesuatu, merefleksikannya, lalu memperbaiki di langkah berikutnya.

Aku sendiri merasakannya saat memulai blog ini. Awalnya aku ingin paham semua: dari teknis website, desain, sampai SEO. Tapi semakin banyak yang dipelajari, semakin sulit mulai. Lupa lagi, bingung lagi. Akhirnya aku coba ubah strategi: mulai aja dulu. Praktik sedikit-sedikit. Dan ternyata, belajar sambil jalan lebih nempel di kepala.

Jangan Tunggu Sempurna, Mulailah Sekarang

Menunggu hingga semua terasa sempurna justru bisa membuat kita kehilangan momentum. Tidak ada waktu yang benar-benar ideal untuk memulai. Seperti kata Reid Hoffman, pendiri LinkedIn:

“If you are not embarrassed by the first version of your product, you’ve launched too late.”

Kuncinya adalah: mulailah dari apa yang kamu bisa sekarang. Kesempurnaan bukan syarat untuk memulai, tapi hasil dari perjalanan yang terus diperbaiki.

Awal itu memang nggak akan sempurna. Tapi kalau nggak dimulai, kita nggak akan pernah sampai ke titik perbaikan.

Dan memang benar. Tidak ada versi pertama yang sempurna. Tidak ada awal yang tidak canggung. Tapi justru dengan melangkah, kita memberi diri kita kesempatan untuk tumbuh.

Jadi, kalau kamu sedang menunggu sampai benar-benar siap, mungkin kamu akan menunggu selamanya. Mulailah dari yang kecil. Dari yang kamu tahu sekarang. Dari yang kamu punya sekarang. Karena kesempurnaan itu bukan syarat untuk memulai—tapi hasil dari terus bergerak dan memperbaiki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *