Miskomunikasi

Apa Itu Miskomunikasi? Penyebab, Contoh, dan Cara Menghindarinya

Pernah nggak sih kamu merasa sudah menjelaskan sesuatu dengan sangat jelas, tapi ternyata orang yang kamu ajak bicara salah paham? Atau sebaliknya, kamu diminta melakukan sesuatu, tapi saat kamu kerjakan, malah dibilang salah atau kurang tepat karena maksud sebenarnya berbeda dari yang kamu tangkap. Nah, kejadian seperti ini adalah contoh dari miskomunikasi, sesuatu yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tapi sering juga kita abaikan.

Secara sederhana, miskomunikasi bisa diartikan sebagai gagalnya penyampaian atau pemahaman pesan antara dua pihak atau lebih. Komunikasi yang seharusnya membuat kita saling mengerti malah menjadi sumber salah paham. Miskomunikasi bisa terjadi di mana saja: di rumah, tempat kerja, pertemanan, bahkan di media sosial. Kadang efeknya cuma bikin kita saling canggung, tapi tidak jarang juga bisa menimbulkan konflik serius.

Menurut Deborah Tannen, seorang profesor linguistik di Georgetown University yang banyak meneliti soal gaya komunikasi antarpribadi. Dalam bukunya You Just Don’t Understand: Women and Men in Conversation ia menjelaskan bahwa banyak konflik dalam hubungan pribadi sebenarnya bukan berasal dari niat buruk, tapi dari gaya komunikasi yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa komunikasi bukan cuma soal “apa yang dikatakan”, tapi juga “bagaimana cara menyampaikannya” dan tentu saja, bagaimana pesan itu ditangkap oleh lawan bicara.

Penyebab miskomunikasi bisa sangat beragam. Salah satunya adalah perbedaan persepsi. Kita semua punya latar belakang, pengalaman, serta cara pandang yang berbeda, dan ini memengaruhi bagaimana kita memahami kata-kata orang lain. Sesuatu yang terdengar biasa saja bagi kamu, bisa saja terdengar kasar bagi orang lain. Selain itu, miskomunikasi juga bisa muncul karena penggunaan bahasa yang terlalu umum atau ambigu. Misalnya, saat seseorang bilang “tolong kirim secepatnya”, apa yang dimaksud dengan “secepatnya”? Dalam hitungan menit, jam, atau besok pagi?

Kadang-kadang juga, kita sendiri kurang fokus saat berkomunikasi. Mungkin sedang banyak pikiran, sibuk memikirkan hal lain, atau terganggu oleh notifikasi HP yang tak henti-henti. Akibatnya, kita tidak benar-benar mendengarkan atau memahami apa yang sedang dibicarakan. Belum lagi, di era digital ini, komunikasi lewat teks, entah lewat chat, email, atau komentar media sosial tidak menyertakan nada suara dan ekspresi wajah. Maka tak heran kalau maksud baik bisa terdengar menyebalkan, hanya karena salah tangkap nada.

Contoh miskomunikasi sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Seorang atasan yang meminta laporan direvisi tanpa menjelaskan bagian mana yang harus diperbaiki bisa membuat karyawannya salah langkah. Dalam hubungan pribadi atau pertemanan, ucapan “aku nggak apa-apa” bisa jadi sebenarnya menyimpan amarah yang tidak terungkap, karena ada ekspektasi agar lawan bicara bisa “mengerti sendiri”. Di media sosial, sebuah komentar bernada bercanda bisa dianggap serius dan menyakitkan, hanya karena tidak disertai konteks atau ekspresi.

Lalu, bagaimana cara menghindari miskomunikasi? Salah satu kuncinya adalah kejelasan. Semakin spesifik kita menyampaikan sesuatu, semakin kecil kemungkinan orang lain salah mengerti. Kita juga perlu membiasakan diri untuk mengonfirmasi ulang. Nggak ada salahnya kok bilang, “Jadi, maksudmu gini ya?” sebelum langsung bertindak. Mendengarkan secara aktif juga sangat penting, bukan hanya mendengar kata-katanya, tapi juga memahami maksud dan perasaan yang ingin disampaikan.

Stephen R. Covey, penulis buku The 7 Habits of Highly Effective People, pernah berkata, “Seek first to understand, then to be understood.” Maksudnya, sebelum buru-buru ingin dimengerti, kita perlu belajar memahami orang lain terlebih dahulu. Ini penting agar komunikasi jadi dua arah, bukan sekadar saling melempar kata-kata.

Selain itu, penting juga untuk tidak berasumsi terlalu banyak. Saat kita merasa “ah pasti dia ngerti maksudku”, bisa jadi justru di situlah celah miskomunikasi bermula. Lebih baik bersikap terbuka dan saling bertanya daripada menebak-nebak yang akhirnya bisa menimbulkan kesalahan besar.

Pada akhirnya, komunikasi yang baik adalah kunci dari hubungan yang sehat, baik dalam pekerjaan, keluarga, maupun pergaulan. Miskomunikasi mungkin tidak bisa dihindari sepenuhnya, tapi dengan kesadaran dan latihan, kita bisa meminimalkannya dan membangun pemahaman yang lebih baik satu sama lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *